electrum

sangat "kecil" dan begitu "berharga"

apa alasanmu?

mengapa kita mendaki gunung, kawan?

mengapa kita mau bersusah payah, berlelah-lelah, hanya untuk menggapai puncak satu gunung?

mengapa kita punya keinginan untuk menapaki jalan yang terus menanjak itu?

Continue reading

04/10/2013 Posted by | let the photos talk | 2 Comments

Lombok: Mataram-Senggigi-Gili Islands

Selamat datang di pulau pesta

Selepas dari Sumbawa, kami tiba di Mataram, Lombok. Bus JTD tiba di pool-nya (daerah sekitaran bandara) sekitar jam 2 pagi. Dari situ, kami naik taksi untuk mencari penginapan di daerah Senggigi. Kami memutuskan menginap di Ray Hotel dengan tarif Rp 150.000 untuk kamar dengan 2 bed yang lumayan nyaman dan bersih. Sebelum beristirahat dengan tenang, kami masih sempat nongkrong di warung makanan pinggir jalan untuk sekedar mengisi perut.

Paginya kami sempatkan dulu ke Perama untuk reservasi tur ke Gili berhubung kami tidak mau repot dan hanya punya satu hari bebas keesokannya. Tragedi kurang menyenangkan di perairan Komodo membuat Perama memberikan voucher untuk saya gunakan di paket-paket tur lainnya. Ya lumayanlah. Saya hanya membayar Rp 150.000 dari harga paket Rp 250.000 untuk paket keliling 3 pulau Gili seharian. Dari Senggigi kami ke Mataram Mal untuk berkeliling dan menunggu teman yang tiba pagi itu dari Jakarta. Lumayan banyak kios di sekitaran mal yang menjajakan mutiara imitasi, kain-kain dan kaos sebagai suvenir Lombok. Selain itu, ada juga kios kerajinan kayu yang menjual banyak barang untuk pajangan di rumah. Bagus-bagus dan murah harganya. Continue reading

23/11/2011 Posted by | the journeys | 5 Comments

Sumbawa Barat: Jelenga-Maluk-Sekongkang

Berkumpulnya pantai-pantai cantik yang tersembunyi

Sekitar jam 12 siang, kami menumpang bus dari Bima menuju Sumbawa Besar di timur Pulau Sumbawa. Yang tersisa hanyalah saya, Larry, Wim, Winny yang nantinya memisahkan diri di Sumbawa Besar, serta guide bang Riswadi, seorang temannya dan pasangan oma-opa Prancis yang langsung menuju Lombok. Perjalanan dari Bima ke Sumbawa Besar dengan jalan darat menghabiskan waktu sekitar 8 jam, menyisir bagian utara Pulau Sumbawa yang membentuk Teluk Saleh, melewati Dompu, Empang, Plampang, dan Lape. Jalan trans Sumbawa ini termasuk bagus dan lebar dengan beberapa perbaikan yang sedang dikerjakan sewaktu saya ke sana. Jalan tidak terlalu banyak berbelok dan dominan landai karena badan jalan yang berada di pantai.

Di Sumbawa Besar, kami menginap di Hotel Suci yang berada di Jalan Hasanuddin. Dengan Rp 100.000, saya mendapat kamar yang bagus dengan 2 single-bed dan kamar mandi di dalam. Malamnya, kami berempat menghabiskan waktu untuk makan dan mengobrol di RM Aneka Rasa Jaya. Sea-food nya bervariasi dan rasanya yang enak membuat saya bisa melupakan lelahnya perjalanan darat sehari tadi. Untuk satu porsi udang saos, nasi, jus buah, dan air mineral saya membayar Rp 50.000. Kami berempat mengobrol dan bertukar pikiran tentang apa saja. Harus saya akui, berada di kondisi ini (satu-satunya orang Indonesia, tuan rumah, dikelilingi 3 orang bule backpacker yang rasa penasarannya besar serta kepalanya dipenuhi pemikiran-pemikiran ideal ala Barat) kadang membuat saya malas mengungkapkan isi kepala. Sudah bisa dipastikan, yang paling banyak bertanya pasti mereka, mengapa disini begini mengapa disitu begitu dan sebagainya. Memang pertanyaan tak ditujukan langsung kepada saya dan saya tidah harus menjawab maupun mengklarifikasi, tetapi itu adalah jenis pertanyaan yang tidak bisa anda abaikan (jika anda orang Indonesia yang tidak ingin orang asing mempunyai persepsi keliru tentang negeri anda). Continue reading

23/11/2011 Posted by | the journeys | 2 Comments

TN Komodo.. mengunjungi keelokan rumah sang kadal purba

Hari pertama di tahun 2011, saya dan dan 8 orang tamu lain yang semuanya adalah pejalan asing memulai hari di kapal Perama, mencoba untuk melihat keindahan yang ditawarkan di wilayah Taman Nasional Komodo. Jam 6 pagi semua orang termasuk awak kapal sudah bersiap dan sebagian sudah beraktivitas. Sebenarnya kapal sudah bertolak dari pelabuhan di Labuanbajo sekitar jam lima, selepas subuh. Malamnya saya memilih tidur di atap dek atas, dengan sleeping-bag dan beralas matras. Dingin memang, tapi saya menikmati hembusan angin laut sepanjang malam dan taburan bintang di langit, menemani dan mengantar saya tertidur nyenyak. Sewaktu kapal bergerak, saya terbangun untuk kemudian tidur lagi karena cuaca yang belum terlalu terang. Continue reading

11/10/2011 Posted by | the journeys | Leave a comment

Flores.. kalau sudah di sini, jangan protes (3)

Bajawa-Labuanbajo.. merasakan keramahan masyarakat Flores

Memang, keelokan panorama Kelimutu tidak henti membuat mata saya berpaling walaupun bus sudah jauh meninggalkan Moni di belakang. Saat itu, saya terpikir untuk meminta izin kepada sopir agar dibolehkan duduk di atap bus, seperti yang biasa dulu saya lakukan di bus Medan-Sibolangit sewaktu masih SMP. Tapi kemungkinannya kecil untuk dikabulkan, karena area itu hanya untuk kernet yang tidak kebagian tempat duduk di dalalm. Jika ada kesempatan lain saya berkunjung kesana, mungkin akan saya coba. Jalur Moni-Ende memang menyuguhkan panorama Kelimutu yang tidak terhalang pepohonan dan perbukitan, sehingga dari beberapa spot akan terlihat keindahan panorama yang hijau dan Kelimutu sebagai pusatnya.

Dalam waktu hampir satu jam, bus memasuki Ende. Bus juga tidak berlama-lama di sana, karena memang tujuan akhirnya adalah Bajawa. Setelah mendapat beberapa tambahan penumpang, bus pun kembali menuju ke arah barat. Ende menurut saya adalah kota paling besar yang ada di Flores. Luas kota yang relatif lebih besar dan posisinya yang berada di tengah Flores, serta menghadap langsung laut Timor menjadikan Ende kota besar dengan penduduk yang lebih banyak. Mungkin dalam beberapa tahun ke depan, Labuanbajo bisa menyaingi Ende mengingat pesatnya pertumbuhan kota di barat Flores yang menjadi pintu masuk utama ke Taman Nasional Komodo itu. Continue reading

11/10/2011 Posted by | the journeys | 3 Comments