electrum

sangat "kecil" dan begitu "berharga"

Sumbawa Barat: Jelenga-Maluk-Sekongkang

Berkumpulnya pantai-pantai cantik yang tersembunyi

Sekitar jam 12 siang, kami menumpang bus dari Bima menuju Sumbawa Besar di timur Pulau Sumbawa. Yang tersisa hanyalah saya, Larry, Wim, Winny yang nantinya memisahkan diri di Sumbawa Besar, serta guide bang Riswadi, seorang temannya dan pasangan oma-opa Prancis yang langsung menuju Lombok. Perjalanan dari Bima ke Sumbawa Besar dengan jalan darat menghabiskan waktu sekitar 8 jam, menyisir bagian utara Pulau Sumbawa yang membentuk Teluk Saleh, melewati Dompu, Empang, Plampang, dan Lape. Jalan trans Sumbawa ini termasuk bagus dan lebar dengan beberapa perbaikan yang sedang dikerjakan sewaktu saya ke sana. Jalan tidak terlalu banyak berbelok dan dominan landai karena badan jalan yang berada di pantai.

Di Sumbawa Besar, kami menginap di Hotel Suci yang berada di Jalan Hasanuddin. Dengan Rp 100.000, saya mendapat kamar yang bagus dengan 2 single-bed dan kamar mandi di dalam. Malamnya, kami berempat menghabiskan waktu untuk makan dan mengobrol di RM Aneka Rasa Jaya. Sea-food nya bervariasi dan rasanya yang enak membuat saya bisa melupakan lelahnya perjalanan darat sehari tadi. Untuk satu porsi udang saos, nasi, jus buah, dan air mineral saya membayar Rp 50.000. Kami berempat mengobrol dan bertukar pikiran tentang apa saja. Harus saya akui, berada di kondisi ini (satu-satunya orang Indonesia, tuan rumah, dikelilingi 3 orang bule backpacker yang rasa penasarannya besar serta kepalanya dipenuhi pemikiran-pemikiran ideal ala Barat) kadang membuat saya malas mengungkapkan isi kepala. Sudah bisa dipastikan, yang paling banyak bertanya pasti mereka, mengapa disini begini mengapa disitu begitu dan sebagainya. Memang pertanyaan tak ditujukan langsung kepada saya dan saya tidah harus menjawab maupun mengklarifikasi, tetapi itu adalah jenis pertanyaan yang tidak bisa anda abaikan (jika anda orang Indonesia yang tidak ingin orang asing mempunyai persepsi keliru tentang negeri anda).

Tapi kembali lagi, inilah salah satu pengalaman yang akan saya dan anda dapat dari traveling. Saya bisa saja berdiam diri karena kemalasan saya berdebat tapi tidak bakal ada yang diuntungkan. Saya tetap merasa kesal karena mereka keliru tentang beberapa hal yang menurut kita adalah sesuatu yang esensial dan mereka pun tidak memperoleh jawaban atas pertanyaan-pertanyaan mereka. Dan disitulah kami berempat sampai tengah malam, sampai ditegur oleh staf rumah makan yang ingin pulang, berdiskusi tentang kondisi Indonesia, ancaman terorisme, agama, globalisasi, dan hal-hal unik yang kami dapati sepanjang perjalanan. Semua itu coba saya jawab dengan isi kepala saya juga, mencoba menjelaskan dalam posisi saya sebagai orang Indonesia. Yang paling seru dan sedikit membuat panas adalah ketika bahasan beralih tentang Islam, jihad, dan jilbab. Dan harus saya akui lagi, orang-orang asing di luar sana tidak semuanya mendapat informasi yang benar. Sambil berjalan pulang, Larry berkata “thanks young man. you gave me another point of view. now I can see the difference”. Ya, terserah kita sebenarnya, sebagai orang Indonesia, mau menjelaskan tentang persepsi-persepsi keliru di luar sana atau tidak.

Paginya, sebelum berangkat ke Maluk saya sempatkan berjalan-jalan ke kota. Sumbawa Besar, menurut pandangan saya adalah kota yang rapi, bersih, dan teratur. Sebagai salah satu kota terbesar di Sumbawa, Sumbawa Besar memegang peran penting sebagai pusat dan jalur transportasi dan perdagangan. Setelah puas berjalan kaki, saya kembali ke penginapan dan bersiap untuk perjalanan selanjutnya. sebagai teman perjalanan dan orang Indonesia yang baik saya mengambil peran sebagai guide untuk teman-teman seperjalanan saya itu. Mulai dari mencari angkot ke terminal, mencari bus ke Taliwang dan ke Maluk, kemudian mencari penginapan. Dari penginapan ke terminal kami menumpang angkot dengan ongkos Rp 5000. Bus ke Taliwang berangkat jam 9 dengan ongkos Rp 25000 dan waktu tempuh 3 jam. Tak menunggu lama, kami sambung lagi dengan bus ke Maluk dengan ongkos Rp 20000 dan jarak tempuh kurang dari 1 jam.

selamat datang di Maluk yang bersih dan terawat

Dan sampailah kami di kota mulut tambang, Maluk, yang pantai indahnya terhampar panjang. Dua tanjung di ujung-ujungnya membatasi teluk yang berpasir putih ini. Saya dan Larry memutuskan menginap di Kiwi Hotel dengan harga kamar Rp 90000, sedang Wim dan Winny memilih menginap di daerah Jelenga. Sorenya saya habiskan waktu di pantai. Banyak juga penduduk beserta keluarganya yang menghabiskan waktu sore di pantai, anak-anak yang bermain bola, serta beberapa pasangan yang duduk santai sambil mengobrol. Saya menikmati suasana pantai yang tenang dan damai di sore itu. Malamnya, saya dan Larry diajak makan oleh Eeng, teman saya yang bekerja di Maluk. Kami menyantap ikan bakar dengan sambal yang pedasnya bikin ketagihan. Larry sangat memuji makanan malam itu, dia mengaku bahwa itulah ikan terenak yang pernah dia makan. Kami hanya tertawa.

bercengkrama dan bermain dengan teman dan keluarga di sore hari

Besoknya, berbekal motor sewaan saya jelajahi daerah Maluk ke utara sampai Jelenga dan ke selatan sampai Sekongkang. Sedangkan Larry dari pagi sudah check-out untuk mencari penginapan di Jelenga. Memacu motor ke arah utara, saya melewati Jereweh, Goa, sampai Lalar. Di Lalar, saya melompati pagar kantor Balai Pertanian yang mempunyai teluk kecil dengan pantai yang indah. Tak jauh dari situ, ada pantai batu karang yang juga tak kalah indah. Ada satu batu karang yang tampak menonjol di kejauhan dan dipasangi tiang berbendera merah putih. Tampak juga beberapa orang dan anak-anak yang mencoba peruntungan dengan memancing di daerah situ. Kamera pun tak henti-hentinya saya jepretkan untuk merekam keindahan pantai-pantai tersebut.

sebuah pantai cantik yang bisa dinikmati setelah melompat pagar

menghabiskan waktu dengan bersantai dan memancing

Setelah Lalar, saya kembali ke arah selatan menuju Goa. Dari situ, sekitar 7 kilometer ke arah barat, terdapat surga tersembunyi pantai Jelenga. Jalanan yang masih tergolong baik dan pemukiman yang tidak terlalu padat membuat saya seakan memang menuju ke tempat yang sempurna. Teluk yang lebar menampung pasir putih sepanjang pantainya, melandai sampai beberapa meter ke tengah, membuat warna air laut di siang itu menjadi biru muda yang jernih. Beberapa baris pohon di belakang pantai menjadi tempat yang rindang untuk menikmati indahnya Jelenga. Terdapat juga beberapa penginapan backpacker yang tepat berada di bibir pantai, masih berjarak dengan kampung penduduk, menjamin ketenangan pengunjung yang pasti akan merasa mempunyai pantai pribadi.

pasir coklat, air hijau, awan putih, langit biru. kombinasi yang indah

Dan tebak, siapa yang saya temui disana. Ya. Larry, Wim, dan Winny (lagi!). Tampaknya kami memang sepakat tentang definisi tempat yang bagus. Jelenga memang mempunyai keindahan yang sempurna. Terbaik di antara semua pantai yang pernah saya kunjungi. Mereka sampai berkhayal ingin tinggal di sana selamanya. Sedang saya, cukup berniat akan membawa pasangan untuk ber-bulan madu nantinya (hahaha). Saya habiskan waktu paling lama disini untuk berjalan-jalan dari ujung ke ujung teluk, mengambil foto, dan kemudian mengobrol. Di salah satu ujung teluk terdapat kumpulan pohon yang tumbuh di air laut dan batu yang membentuk benteng di puncak bukit. Selain itu, rerumputan yang ada di salah satu bagian pantai juga menambah objek foto untuk dokumentasi saya.

bahkan saya tidak berani untuk berlama-lama di sana. takut betah

Setelah puas di Jelenga, saya kembali ke Maluk untuk makan siang yang sudah sangat sangat terlambat. Karena masih punya waktu, saya pun kembali berkendara walaupun hujan gerimis mulai turun. Kali ini saya arahkan motor ke selatan, daerah Sekongkang. Jalan kesana harus melewati satu tanjung batu yang lumayan tinggi. Jalan berkelok-kelok dan cenderung licin jika hujan datang walaupun jalan sudah teraspal bagus. Saya harus hati-hati dan mencoba tidak terburu-buru karena jalanan di sana memang tergolong sepi. Hanya sesekali saja saya berpapasan dengan kendaraan lain. Setelah melewati tanjung itu, jalanan kembali melandai dan menuju ke pantai.

barisan pohon yang tumbuh di air laut

Sama seperti pantai-pantai sebelumnya Sekongkang juga terdapat di teluk yang lebih besar lagi. Walaupun warna pasir tidak sepenuhnya putih tetapi Sekongkang tetap tetap terlihat sebagai pantai yang indah sejauh mata memandang. Daya tarik terbesar Sekongkang adalah ombaknya yang sangat menantang. Beberapa penginapan backpacker akan dipenuhi oleh surfer-surfer mancanegara pada saat musim ombak. Di sini saya hanya berhenti sebentar saja untuk mengambil foto mengingat hujan gerimis yang tak kunjung berhenti. Hari itu saya cukup puas menikmati pantai-pantai terbaik di Sumbawa Barat.

Sekongkang yang jadi primadona para surfer di Sumbawa Barat. indah sangat

Malamnya saya kembali ditraktir oleh teman saya yang lain, Lisa, yang juga bekerja di Maluk. Saya, Eeng, dan Lisa adalah teman kuliah di Bandung dulu. Kami makan bebek goreng yang terkenal enak di sana sambil mengobrol tentang kehidupan mereka di sana dan objek-objek wisata di daerah sana. Sekitar jam 8 malam, saya dan Eeng sudah berada di dalam bus JTD tujuan Mataram, Lombok. Kami berdua sudah berencana untuk liburan bareng di Lombok. Ongkos bus Rp 75000 dengan waktu tempuh selama 6 jam termasuk menyebrang dari Poto Tano di Sumbawa ke Labuhan Lombok. Ya selesai sudah waktu jalan-jalan saya di Sumbawa Barat yang menyimpan banyak destinasi pantai yang menakjubkan. Sangat menakjubkan.

nice to have you as my travelmates. hope you enjoy Indonesia

23/11/2011 - Posted by | the journeys

No comments yet.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.