Lombok: Mataram-Senggigi-Gili Islands
Selamat datang di pulau pesta
Selepas dari Sumbawa, kami tiba di Mataram, Lombok. Bus JTD tiba di pool-nya (daerah sekitaran bandara) sekitar jam 2 pagi. Dari situ, kami naik taksi untuk mencari penginapan di daerah Senggigi. Kami memutuskan menginap di Ray Hotel dengan tarif Rp 150.000 untuk kamar dengan 2 bed yang lumayan nyaman dan bersih. Sebelum beristirahat dengan tenang, kami masih sempat nongkrong di warung makanan pinggir jalan untuk sekedar mengisi perut.
Paginya kami sempatkan dulu ke Perama untuk reservasi tur ke Gili berhubung kami tidak mau repot dan hanya punya satu hari bebas keesokannya. Tragedi kurang menyenangkan di perairan Komodo membuat Perama memberikan voucher untuk saya gunakan di paket-paket tur lainnya. Ya lumayanlah. Saya hanya membayar Rp 150.000 dari harga paket Rp 250.000 untuk paket keliling 3 pulau Gili seharian. Dari Senggigi kami ke Mataram Mal untuk berkeliling dan menunggu teman yang tiba pagi itu dari Jakarta. Lumayan banyak kios di sekitaran mal yang menjajakan mutiara imitasi, kain-kain dan kaos sebagai suvenir Lombok. Selain itu, ada juga kios kerajinan kayu yang menjual banyak barang untuk pajangan di rumah. Bagus-bagus dan murah harganya.
Peter, yang juga teman kuliah saya, tiba sekitar jam 1 siang. Untungnya si Peter dapat penginapan gratis karena dia ada urusan pekerjaan, jadi malam itu kami menumpang tidur di kamar hotel Lombok Raya. Dari Mataram, dengan menumpang taksi kami mencoba untuk melihat-lihat mutiara asli di toko yang mewah. Ya sekedar untuk perbandingan dan persiapan (persiapan apa coba? haha). Toko pertama, Lombok Pearl, terasa sekali hawa mewah dan berkelasnya. Kami yang tampang dan tampilannya pas-pasan lumayan jiper juga sewaktu pertama kali melangkahkan kaki ke dalamnya, apalagi diawasi terus dengan tatapan staf dan sekuriti yang lumayan bikin kurang nyaman. Begitu lihat harga-harga mutiara yang memang bagus banget (jika dibandingkan dengan kios mutiara imitasi di seputaran mal), kami cukup diam saja dan ingin cepat-cepat berlalu dari situ.
Berbeda dengan toko pertama, di toko kedua, M&L Pearl, kami disambut staf penjual yang lebih ramah malah lebih cenderung cuek. Mutiara-mutiara yang dipajang terlihat sama saja dengan toko sebelumnya, mutiara-mutiara yang dirangkai menjadi kalung, cincin, gelang dan aksesoris-aksesoris indah lainnya. Hanya saja penataan dan penjagaan lebih longgar di toko kedua ini. Di toko pertama, begitu banyak staf penjual sementara toko kedua cuma dijaga dua orang saja. Bahkan kami ditawari dan dibolehkan untuk berfoto dengan mutiara-mutiara yang harganya sampai ratusan juta itu. Kebayang kan jadinya kalau kami itu penjahat?
Sore hari kami habiskan kembali di Senggigi. Sekedar nongkrong, minum kopi, dan mengobrol di pantai. Tak lupa juga saya mengabadikan panorama sunset dan kegiatan masyarakat di pantai. Menikmati sunset di Senggigi bersama kopi dan sahabat merupakan salah satu momen yang jarang terjadi dan saya pun bersyukur karenanya. Setelah dua minggu lebih traveling sendirian, saya menikmati penutupan traveling ini bersama sahabat-sahabat saya. Malamnya kami bersantap di Happy Cafe, masih di kawasan Senggigi, bersama Adrian, seorang teman lagi yang baru bisa bergabung malam itu. Live music dan suasana yang hangat serta ramai menemani obrolan-obrolan ringan kami berempat. Hampir tengah malam baru kami kembali ke hotel untuk beristirahat.
Paginya, saya dan Eeng dijemput oleh bus Perama di hotel. Sedangkan Peter dan Adrian harus mengurus pekerjaan mereka, jadi kami berpisah. Dan tak disangka, di bus itu saya bertemu lagi dengan Wim dan Winny yang baru tiba dari Sumbawa. Dan perbincangan pun mengalir tentang pengalaman mereka sejak pertemuan kami di Jelenga beberapa hari yang lalu. Di Senggigi, kami berpisah lagi. Wim dan Winny melanjutkan perjalanan ke Bali sedangkan saya dan Eeng ke Gili. Paket yang kami ambil hanya menyediakan sarana transportasi dari Senggigi-Teluk Kode-Trawangan Meno Air-balik lagi ke Senggigi dan seorang guide untuk sekedar tempat bertanya tanpa menjelaskan lebih banyak.
Kami tiba di Trawangan jam 9 dan langsung berjalan-jalan untuk melihat seperti apa sih rupa pulau pesta yang sangat digemari backpacker luar dan dalam negeri itu. Dari pandangan sekilas, bersihnya pantai putih, indahnya panorama alam sekitar, menjamurnya homestay dan kafe-kafe yang menawarkan ketenangan serta keceriaan, bisa saya bayangkan keriuhan dan pesta yang ada tiap malam di Trawangan. Benar-benar tempat yang sesuai untuk menghilangkan penat dan mencari kegembiraan. Tempat seperti ini menurut saya sangat tidak cocok untuk solo-traveler kecuali anda adalah orang yang sangat supel dan gampang memperoleh teman di mana saja. Tempat seperti ini hendaknya dinikmati bersama beberapa teman selama beberapa hari untuk mendapatkan liburan yang sempurna. Sayang kami hanya berdua dan hanya setengah hari di sana. Rencana berlibur dengan teman-teman yang lain ke Gili tampaknya susah terwujud.
Setelah bersantap di Trawangan, kami memulai perjalanan dengan kapal kayu di tiga pulau Gili. Kegiatan kami adalah snorkeling dan bersantai. Pertama, snorkeling di Trawangan yang saya anggap biasa saja kemudidan di Gili Meno, dan terakhir Gili Air. Kehidupan karang yang paling bagus menurut saya adalah yang di depan Meno, sedangkan ikan paling banyak berada di sekitar Gili Air. Alat-alat snorkeling disediakan oleh operator jadi memang kami cukup membawa badan saja. Satu hal yang sangat saya sesali adalah underwater camera yang tertinggal di tas saya yang dititipkan di kantor Perama di Sengigi. Ya walaupun demikian saya cukup gembira menikmati acara snorkeling di perairan Gili ini dan pantai-pantainya yang bagus. Siangnya, kami diantar untuk beristirahat dan santap siang di salah satu kafe pinggir pantai Gili Air (biaya makan tidak ditanggung operator). Sekitar jam 4 sore, kami diantar kembali ke Teluk Kode dan kemudian ke Senggigi.
Di Senggigi, malam terakhir perjalanan saya kami menginap di Lina Hotel yang berada di seberang counter Perama. Harga kamar dengan dekorasi interior bambu dan kayu serta langsung menghadap pantai ini adalah Rp 150.000. Melihat waktu yang masih cukup untuk berkeliling, kami menyewa motor lagi selama tiga jam menuju Mataram untuk membeli oleh-oleh dan makan ayam Taliwang dengan plecingnya yang pedasnya sangat-sangat membuat ketagihan. Kami membayar Rp 35.000 untuk sewa motor ini. Sepulang dari Mataram, kami beristirahat dengan sangat nyenyak. Paginya, sekitar jam 4 subuh, kami sudah berada di taksi yang mengantar ke bandara untuk kepulangan kami ke tanah Jawa. Ya, perjalanan saya berakhir sudah. Saya kembali dengan perasaan seperti sudah “terisi penuh” oleh pengalaman-pengalaman yang manis dikenang. Lombok menjadi penutup yang sempurna untuk perjalanan saya kali ini.










Subhanallah..
indah sekali pantainya..