TN Komodo.. mengunjungi keelokan rumah sang kadal purba
Hari pertama di tahun 2011, saya dan dan 8 orang tamu lain yang semuanya adalah pejalan asing memulai hari di kapal Perama, mencoba untuk melihat keindahan yang ditawarkan di wilayah Taman Nasional Komodo. Jam 6 pagi semua orang termasuk awak kapal sudah bersiap dan sebagian sudah beraktivitas. Sebenarnya kapal sudah bertolak dari pelabuhan di Labuanbajo sekitar jam lima, selepas subuh. Malamnya saya memilih tidur di atap dek atas, dengan sleeping-bag dan beralas matras. Dingin memang, tapi saya menikmati hembusan angin laut sepanjang malam dan taburan bintang di langit, menemani dan mengantar saya tertidur nyenyak. Sewaktu kapal bergerak, saya terbangun untuk kemudian tidur lagi karena cuaca yang belum terlalu terang.
Untuk urusan perut di atas kapal, kami tidak perlu khawatir karena koki kapal selalu menghidangkan makanan yang menurut saya enak dan bervariasi. Sarapan dengan pancake dan salad buah, serta makan siang dan makan malam dengan olahan makanan laut yang selalu menggugah selera. Kapal merapat di pos Taman Nasional di Loh Buaya, Pulau Rinca, sekitar satu setengah jam kemudian. Dua orang guide dari operator kapal dan kemudian ditemani seorang guide dari pihak taman nasional menemani kami untuk berkeliling Pulau Rinca dengan trekking, melihat kehidupan Komodo dan menikmati panorama alam di Pulau Rinca.
Tak jauh dari kantor taman nasional, kami sudah bertemu dengan sekelompok reptil purba tersebut. Guide pun kemudian memperbolehkan kami untuk sekedar memotret dan melihat komodo dari dekat, asal tetap menjaga jarak aman. Guide menjelaskan bahwa komodo akan memakan mangsanya setelah terlebih dahulu menggigitnya dan memindahkan sejenis bakteri yang ada di air liurnya. Jadi setelah menggigit mangsanya, yang tak jarang adalah hewan-hewan besar seperti kerbau, komodo akan menunggu pengaruh bakteri tersebut bekerja dan mangsa kelelahan dan mati dengan sendirinya. Setelah itu, barulah komodo berpesta dengan merobek-robek daging mangsanya menggunakan giginya yang tajam.
Mengenai keterdapatan komodo yang hanya terkonsentrasi di pulau-pulau antara Sumbawa dan Flores, sebenarnya para ahli juga masih belum sependapat. Ada yang menyebutkan bahwa komodo adalah bentuk lebih kecil dari reptil purba yang fosilnya pernah diketemukan di benua Australia. Jadi komodo yang ada sekarang berasal dari Australia. Memang kemampuan berenang komodo cukup menakjubkan, komodo mampu berpindah-pindah di antara pulau-pulau di dalam wilayah taman nasional. Sedang pendapat lain menyatakan bahwa komodo adalah endemik daerah itu dan dari dahulu berukuran seperti itu. Ketiadaan pemangsa dan keterisolasian daerah membuat komodo berada di puncak rantai makanan sampai sekarang. Karena keunikan dan langkanya komodo, hewan ini menjadi hewan yang dilindungi dan marak dalam beberapa tahun ini gerakan untuk menyukseskan dan mempromosikan komodo menjadi salah satu dari tujuh keajaiban dunia.
Selain komodo, beberapa satwa lain yang juga hidup di Pulau Rinca antara lain monyet, kerbau, rusa dan babi. Selain itu, beberapa jenis burung juga ada di pulau ini. Sambil trekking ke arah bukit, guide juga menunjukkan beberapa spot yang menjadi tempat favorit komodo menampakkan diri. Tidak jarang juga, komodo terlihat sedang mangkal di atas pohon dan batu-batu besar. Setelah satu jam trekking sambil mendengarkan penjelasan guide, kamipun tibalah di atas bukit, memandang panorama beberapa pulau sekitar Rinca yang dihubungkan oleh laut-laut tenang. Satu kata yang terucap sewaktu melihat keindahan itu. Subhanallah, betapa Tuhan telah menciptakan alam yang demikian indah untuk dinikmati dan dimanfaatkan manusia. Bukit-bukit yang diwarnai oleh savana-savana hijau dan dipadu oleh biru air laut yang terlihat tanpa ada halangan di atas bukit itu memberikan efek yang membuat saya terkagum-kagum. Komposisinya benar-benar elok dan membuat saya terpana.
Setelah memuaskan mata di Pulau Rinca, kami bergerak kembali ke ke Gili Laba, sebuah pantai pasir putih di perairan yang dangkal, tempat snorkeling yang baik karena kehidupan karang-karang di bawahnya yang tidak terganggu. Dengan sekoci kecil bermotor, kami diantar ke pantai. Kamipun memuaskan diri untuk berenang dan snorkeling, menikmati kehidupan terumbu karang disana. Terlihat beberapa jenis ikan berwarna-warni dan schooling ikan yang bergerak bersama seperti ada yang memandu. Di beberapa titik, tampak juga beberapa ekor clown fish yang sedang bermain di anemon yang beraneka warna. Tatkala hendak naik kembali ke atas sekoci, saya melihat beberapa ekor manta yang seperti terbang dan dengan tenang sedang melahap plankton. Saya menceburkan diri lagi untuk melihat sejenak pertunjukkan bawah air ini dan merasa senang karenanya.
Badai buruk menghantam kapal sewaktu hendak keluar dari wilayah kepulauan, di lautan lepas untuk selanjutnya menuju Sumbawa di barat. Arus laut sangat kuat menghantam kapal, membuat gelombang-gelombang tinggi, bahkan menaikkan kapal sampai sekitar 3 meter. Yang jadi korban adalah semua penumpang di kapal, diguncang hebat di atas kapal selama lebih kurang 3 jam, membuat semua isi perut
keluar. Saya sendiri muntah sampai 6 kali. Muntah terakhir hanya menyisakan cairan kuning yang dipaksa keluar dari mulut. Sakit sekali dan saya hanya bisa terduduk lesu di ruang tengah sambil menunggu kapan selesainya badai itu atau kapan kapal tiba di pelabuhan terdekat. Beberapa wanita sudah berteriak histeris sambil menangis-nangis meminta kapal berlabuh secepatnya.
Akhirnya, kapal pun berlabuh di pantai Bonto, di teluk Bima, bagian utara Pulau Sumbawa. Tempat ini adalah pemukiman nelayan, yang berjarak tempuh sekitar setengah jam perjalanan darat dari Bima. Di sana kapal berlabuh semalaman untuk menunggu badai reda. Malamnya, saya mengobrol dengan awak kapal yang notabene selalu melewati rute itu tentang badai yang kami lewati. Ternyata itu adalah badai terburuk yang pernah mereka alami, sampai salah seorang mengaku bahwa dia juga muntah dan sampai tidak sanggup bangun karena menahankan sakit yang teramat. Saya pun sedikit bersorak dalam hati, ternyata bukan saya saja yang mengalami ketidakberdayaan sewaktu dihantam badai kemarin. Dan akibat dari badai dan trauma yang ditimbulkan, semua penumpang yang lain menyatakan tidak melanjutkan perjalanan dengan kapal, dan tidak mungkin pula hanya saya sendiri tamu yang melanjutkan perjalanan. Akhirnya, dua orang guide ikut bersama kami melanjutkan perjalanan lewat darat sementara kapal tetap melanjutkan perjalanan laut ke Lombok untuk memenuhi jadwal dari operator.
Paginya, dari Bonto kami menyewa bus untuk mengantar kami ke kota Bima. Di sana, 3 orang dari kami melanjutkan perjalanan melalui udara ke Denpasar, sedangkan saya, Larry yang Aussie, pasangan Belanda Wim dan Winnie, pasangan opa-oma dari Prancis yang tidak bisa bahasa Inggris, serta guide Bang Riswadi dan teman, akan melanjutkan perjalanan lewat darat sampai ke Lombok. Alasannya sederhana, karena operator masih akan menanggung semua biaya perjalanan. Akhirnya kami pun menumpang bus selama sehari lagi dari Bima menuju Sumbawa Besar. Saya pun bertanya dalam hati, mengapa kejadian baik dan buruk seperti datang silih berganti hanya dalam hitungan jam saja? Dan sekilas terpikir bahwa mungkin inilah cara terbaik untuk selalu mengingatkan kita bahwa hidup tidak selamanya akan senang ataupun sedih terus.
No comments yet.









