electrum

sangat "kecil" dan begitu "berharga"

Flores.. kalau sudah di sini, jangan protes (3)

Bajawa-Labuanbajo.. merasakan keramahan masyarakat Flores

Memang, keelokan panorama Kelimutu tidak henti membuat mata saya berpaling walaupun bus sudah jauh meninggalkan Moni di belakang. Saat itu, saya terpikir untuk meminta izin kepada sopir agar dibolehkan duduk di atap bus, seperti yang biasa dulu saya lakukan di bus Medan-Sibolangit sewaktu masih SMP. Tapi kemungkinannya kecil untuk dikabulkan, karena area itu hanya untuk kernet yang tidak kebagian tempat duduk di dalalm. Jika ada kesempatan lain saya berkunjung kesana, mungkin akan saya coba. Jalur Moni-Ende memang menyuguhkan panorama Kelimutu yang tidak terhalang pepohonan dan perbukitan, sehingga dari beberapa spot akan terlihat keindahan panorama yang hijau dan Kelimutu sebagai pusatnya.

Dalam waktu hampir satu jam, bus memasuki Ende. Bus juga tidak berlama-lama di sana, karena memang tujuan akhirnya adalah Bajawa. Setelah mendapat beberapa tambahan penumpang, bus pun kembali menuju ke arah barat. Ende menurut saya adalah kota paling besar yang ada di Flores. Luas kota yang relatif lebih besar dan posisinya yang berada di tengah Flores, serta menghadap langsung laut Timor menjadikan Ende kota besar dengan penduduk yang lebih banyak. Mungkin dalam beberapa tahun ke depan, Labuanbajo bisa menyaingi Ende mengingat pesatnya pertumbuhan kota di barat Flores yang menjadi pintu masuk utama ke Taman Nasional Komodo itu.

Dari pusat kota Ende, bus melintas jalan mulus tepat di pesisir selatan yang landai sehingga terlihat pantai yang cenderung berwarna hitam sepanjang puluhan kilometer. Setelah melewati proyek pelabuhan baru di ujung teluk, barulah bus melintasi jalan di pegunungan. Namun jalan ini masih bisa ditolerir kewajarannya, tidak seperti rute-rute sebelumnya. Jalan cenderung lurus dan tidak berkelok-kelok melipir punggungan perbukitan. Saya pun bisa sekalian beristirahat di bus. Hanya dari Boawae ke Bajawa, sekitar seperempat perjalanan akhir, jalan agak berliku-liku membuat tidur saya terganggu. Bus melewati terminal bus Watujaji, yang merupakan pertigaan ke arah kota di utara dan ke Ruteng di barat, sekitar jam lima. Supir bus mengantarkan penumpang ke tujuannya masing-masing di kota. Saya minta untuk diantar ke penginapan Edelweis di Jalan Ahmad Yani. Dan saya pun membayar ongkos bus sebesar Rp 70000.

Tapi setelah bertanya, harga di Edelweis masih terlalu mahal menurut saya. Sehingga saya memutuskan untuk menginap di Korina, yang tepat berada di seberangnya. Kamar termurah di Korina dengan kamar mandi di dalam sudah didapat dengan bayaran Rp 100000, sedang di Edelweis Rp 175000. Selain itu, terdapat dua rumah makan padang di dekat pasar yang masih bisa ditempuh dengan berjalan kaki, warnet sekitar 100 m, dan Cafe Ditto’s yang juga tidak jauh dari penginapan. Malamnya, saya bercengkrama dengan pengurus penginapan sambil menyaksikan pertandingan final kedua Piala AFF antara Indonesia dan Malaysia bola di televisi.

Pagi hari, sekitar jam delapan saya dibonceng Martin, menuju ke Desa Wogo di daerah Mataloko, di jalan arah kembali ke Ende, sekitar 18 km dari kota. Mataloko terkenal dengan seminarinya yang besar, terlihat jelas di pinggir jalan utama. Desa Wogo merupakan salah satu desa tradisional yang dijadikan objek wisata bagi pengunjung. Terlihat pembangunan jalan dan prasarana sedang dilaksanakan untuk membuat nyaman pengunjung dengan tetap memperhatikan nilai adat. Pertama, kami mendatangi Wogo Lama, dimana tampak sebaran batu-batu besar yang lebar dan datar, bekas pemukiman leluhur penduduk terdahulu dan kadang dijadikan tempat upacara adat. Sebagian batu sudah tertutup ilalang tetapi masih bisa dikenali dan diperkirakan bahwa sebaran batu ini berasal dari leluhur penduduk dari zaman prasejarah.

Di Wogo, saya ditemani Kak Maria, guide lokal, yang bercerita banyak tentang tradisi dan kebiasaan masyarakat adat di sana. Kak Maria juga dengan sabar menjelaskan tentang Ngadu dan Bhaga yang sudah menjadi bagian dari hidup penduduk. Masyarakat Bajawa mayoritas berasal dari suku Ngada yang mendiami dataran tinggi Bajawa dan areal sekitar kaki gunung Inerie. Saat ini, suku Ngada masih melanjutkan tradisi memuja leluhur dengan membangun Ngadu dan Bhaga yang merupakan representasi dari leluhur wanita dan pria dari tiap kelompok keluarga. Di Wogo sendiri ada sembilan pasang Ngadu dan Bhaga yang terdapat di depan rumah-rumah penduduk. Ngadu adalah tempat pemujaan untuk leluhur laki-laki, sedangkan Bhaga yang lebih kecil ditujukan untuk leluhur perempuan.

Tampak beberapa penduduk sedang bergotong-royong memperbaiki atap salah satu rumah yang telah rusak. Desa Wogo berbentuk petak dengan lapangan besar di tengah dan rumah-rumah hunian penduduk berbaris rapi di tiap sisinya. Di salah satu rumah, di sudut desa yang dijadikan tempat menerima tamu, saya mengisi buku tamu sambil bercengkrama dengan Kak Maria, kemudian memberikan donasi. Sistem donasi ini ternyata berlaku umum bagi desa-desa tradisional di sekitar Bajawa yang dijadikan objek kunjungan wisatawan. Menjelang akhir tahun, ternyata ada tradisi perayaan yang dilakukan berpindah-pindah dari satu desa adat ke desa lainnya. Perayaan berupa tari-tarian yang diselenggarakan tanpa henti selama beberapa hari, pertanda syukur akan nikmat alam yang diperoleh dalam setahun. Di Wogo, perayaan telah selesai beberapa hari lalu, begitu juga di Bena. Perayaan hari itu ada di Desa Kufu.

Dari Wogo, kami beranjak ke Desa Bena yang berjarak sekitar setengah jam perjalanan motor. Jalan menuju ke Desa Bena menyuguhkan keindahan Gunung Inerie, gunung tertinggi di Flores. Di beberapa tempat, sayapun meminta Martin untuk berhenti sejenak sehingga saya bisa mengabadikan keelokan pemandangan alam itu. Desa Bena, merupakan desa adat yang paling populer dan paling sering dikunjungi wisatawan karena bentuk desanya yang bertingkat dan lebih banyak menampilkan kekhasan desa adat. Sebelum tiba di Bena, kami singgah sebentar di Desa Luba yang jaraknya berdekatan dengan Bena. Setelah mengisi buku tamu dan menyerahkan donasi sepantasnya, saya berjalan-jalan di dalam Desa Bena.

Penduduk di sini tampak lebih ramai dan memberikan senyum kepada saya, tanda mereka sudah terbuka menyambut pengunjung yang menikmati keunikan tradisi mereka. Di beberapa rumah saya lihat barisan kepala kambing, kerbau, dan beberapa binatang ternak yang kemungkinan adalah kurban setiap diadakan upacara adat, selain juga melambangkan kesejahteraan penghuninya. Selain Ngadu dan Bhaga, di Bena juga terdapat monumen batu yang masih menjadi bagian dari kehidupan adat. Selain itu, dipamerkan pula kain-kain ikat yang bagus, hasil kerajinan para wanita desa untuk dijual kepada pengunjung. Ya, di Bena saya melihat kehidupan penduduk yang bersahaja dan tetap teguh memegang adat istiadatnya.

Dari Bena, kemudian Martin membawa saya ke Kufu. Karena memang Martin belum pernah kesana, kamipun banyak bertanya kepada penduduk. Di Kufu, ternyata perayaan sedang berlangsung. Dari sisi kampung di bagian atas, kami melihat ke lapangan tempat perayaan yang berada di bawah. Tampak beberapa baris penduduk, pria dan wanita dalam pakaian adat menyanyi dan menari dalam irama yang teratur. Orang luar yang bukan warga desa adat, apalagi tidak mengenakan pakaian adat dilarang mendekat. Pak Linus, penduduk desa yang melihat ada pengunjung mengajak saya duduk mengobrol di dalam rumahnya. Kami disuguhi teh hangat dan beliau pun bercerita cukup panjang tentang tradisi adat tersebut. Saya cukup beruntung walaupun hanya menikmati tarian dari jauh, tetapi mendapat penjelasan dan pelayanan yang tidak saya harapkan sebelumnya. Keramahan khas penduduk memang tidak ada yang dibuat-buat, semuanya adalah ungkapan tulus yang menunjukkan penghargaan kepada orang lain.

Sebenarnya banyak tempat yang ditawarkan Martin untuk saya datangi, terutama mata air panas Malanage di Soa yang berada di utara Bajawa dan berjarak cukup jauh. Setelah makan siang di kota, saya lebih memilih untuk ke warnet untuk cek email dan transfer foto daripada ke air panas. Dalam pikiran saya, mata air panas kan pasti begitu-begitu saja, tidak ada yang istimewa. Saya membayar Rp 100000 untuk jasa Martin dan motornya. Di warnet inilah kejadian buruk yang baru saya sadari beberapa minggu kemudian bermula. Awalnya, saya memindahkan foto-foto dari memory-card kamera ke harddisk PC, kemudian dari PC ke HDD external yang memang saya bawa untuk back-up foto. 200-an foto, termasuk foto-foto pada hari itu, saya duga hilang sewaktu proses cut, copy, dan paste itu. Padahal saya sudah cek bahwa ukuran file dalam satu folder yang saya transfer adalah sama dari kamera, ke PC, dan kemudian ke HDD external. Terhapus atau hilangnya foto-foto ini baru saya sadari ketika saya sudah di Jakarta. Inilah alasan mengapa postingan kali ini tidak disertai banyak foto. Dan saya hanya bisa lemas seharian pada waktu menyadari bahwa yang terhapus adalah foto-foto di desa tradisional yang sangat saya sukai.

rumah Pak Linus di Kufu. Salah satu foto yang selamat

Kegiatan saya malam hari hanyalah mengobrol sampai larut malam sekali dengan pengurus penginapan. Entah mengapa, saya sangat menikmati sekali mengobrol, apalagi dengan orang yang baru saya kenal. Dari mereka, saya memang mendapat banyak hal yang tidak didapatkan dari buku-buku guide pejalan. Jam setengah tujuh keesokan paginya, saya sudah bersiap untuk melanjutkan perjalanan rute terakhir ke Labuanbajo. Bus Gemini yang sudah dipesan pihak penginapan datang menjemput tak lama kemudian. Saya mendapat kehormatan duduk di samping Om Leo yang sangat kocak dan selalu mengajak saya mengobrol di sepanjang perjalanan. Ada juga keluarga bule asal Belgia yang duduk di belakang dan menjadi teman diskusi yang menyenangkan.

foto candid Om Leo. Sebenarnya dia minta difoto secara normal, tapi saya lebih suka pose yang natural

Perjalanan Bajawa-Labuanbajo kali itu saya anggap rute terbaik selama perjalanan saya di Flores. Pertama karena saya bisa duduk di depan, jadi bisa duduk lebih lega dan puas menikmati pemandangan di luar sana. Kedua, karena Om Leo supirnya dan dia baik hati juga kocak. Saya diajak mengobrol tentang semua hal, bahkan bersedia meminggirkan sejenak busnya demi melihat saya mengeluarkan kamera untuk mengambil foto Inerie yang gagah dan menawan. Dan ketiga, karena rute ini yang paling “beradab”, tidak banyak belokan yang membuat kepala pusing. Jalannya relatif lurus dan lebar, serta panorama perbukitan dan sawah yang menghijau menemani selama perjalanan. Indah nian.

perbukitan dan sawah yang menghijau, menemani di sepanjang rute Bajawa-Labuanbajo

Saya tiba di Labuanbajo sekitar pukul enam sore. Setelah membayar ongkos Rp 100000 kepada Om Leo, saya jabat tangannya untuk berterimakasih dan berharap kami dapat bertemu lagi di lain kesempatan. Saya check-in di Bajo Beach Resort untuk kemudian check-out lagi pada jam sepuluh malam dan membayar Rp 60000. Saya tidak jadi menginap malam itu karena memutuskan untuk mengikuti kapal tour oleh operator Perama dengan rute Labuanbajo-Lombok yang berbiaya Rp 1,1 juta. Ya, saya mengambil keputusan yang saya kira terbaik saat itu setelah berdiskusi dan mendapat saran dari keluarga Belgia yang menjadi teman perjalanan saya.

Alasannya adalah karena tidak akan gampang mencari partner untuk berbagi biaya sewa perahu berkeliling Taman Nasional Komodo di tengah musim sepi pengunjung. Keluarga Belgia itu juga sudah memesan tempat beberapa hari kemudian untuk tour dengan kapal langsung menuju Lombok sehingga akan menghemat biaya karena tidak perlu kembali ke Labuanbajo lagi. Saya pikir tindakan itu yang paling logis, daripada menunggu partner berhari-hari tetapi belum tentu dapat, lebih baik saya keluar sesegera mungkin dari Labuanbajo. Dan akhirnya saya pun mendapat tempat terakhir di kapal yang berangkat keesokan paginya dan mengharuskan saya menginap di kapal malam itu juga.

Malam itu, saya berada di atap kapal yang berlabuh agak jauh ke tengah, menikmati sajian kembang api yang dilontarkan dari arah kota. Malam itu, malam tahun baru. Sejenak saya termenung mengingat-ingat kejadian yang saya alami beberapa hari ke belakang dalam solo-travelling saya yang kesekian kali ini. Saya tersenyum untuk kemudian bersyukur atas kemudahan dalam tiap langkah saya dan pengalaman berinteraksi dengan keramahan khas orang Flores. Setelah kembang api selesai dinyalakan, saya bergabung ke bawah dengan teman-teman baru dalam perjalanan tiga hari di kapal ini. Cheers! Happy New Year!

Ya, selamat tinggal Flores. Saran saya, kalau anda berada disana, usahakan jangan banyak protes. Nikmati tiap jengkal perjalanan anda dan percayalah selalu ada hal indah di balik itu semua.

Advertisement

11/10/2011 - Posted by | the journeys

2 Comments »

  1. unic culture…..salam persaudaraan Indonesia

    Comment by corry prabawati_Malang | 15/01/2012 | Reply

    • salam. terimakasih sudah berkunjung..

      Comment by electrum | 25/01/2012 | Reply


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.