electrum

sangat "kecil" dan begitu "berharga"

TN Komodo.. mengunjungi keelokan rumah sang kadal purba

Hari pertama di tahun 2011, saya dan dan 8 orang tamu lain yang semuanya adalah pejalan asing memulai hari di kapal Perama, mencoba untuk melihat keindahan yang ditawarkan di wilayah Taman Nasional Komodo. Jam 6 pagi semua orang termasuk awak kapal sudah bersiap dan sebagian sudah beraktivitas. Sebenarnya kapal sudah bertolak dari pelabuhan di Labuanbajo sekitar jam lima, selepas subuh. Malamnya saya memilih tidur di atap dek atas, dengan sleeping-bag dan beralas matras. Dingin memang, tapi saya menikmati hembusan angin laut sepanjang malam dan taburan bintang di langit, menemani dan mengantar saya tertidur nyenyak. Sewaktu kapal bergerak, saya terbangun untuk kemudian tidur lagi karena cuaca yang belum terlalu terang. Read more »

11/10/2011 Posted by | the journeys | Leave a Comment

Flores.. kalau sudah di sini, jangan protes (3)

Bajawa-Labuanbajo.. merasakan keramahan masyarakat Flores

Memang, keelokan panorama Kelimutu tidak henti membuat mata saya berpaling walaupun bus sudah jauh meninggalkan Moni di belakang. Saat itu, saya terpikir untuk meminta izin kepada sopir agar dibolehkan duduk di atap bus, seperti yang biasa dulu saya lakukan di bus Medan-Sibolangit sewaktu masih SMP. Tapi kemungkinannya kecil untuk dikabulkan, karena area itu hanya untuk kernet yang tidak kebagian tempat duduk di dalalm. Jika ada kesempatan lain saya berkunjung kesana, mungkin akan saya coba. Jalur Moni-Ende memang menyuguhkan panorama Kelimutu yang tidak terhalang pepohonan dan perbukitan, sehingga dari beberapa spot akan terlihat keindahan panorama yang hijau dan Kelimutu sebagai pusatnya.

Dalam waktu hampir satu jam, bus memasuki Ende. Bus juga tidak berlama-lama di sana, karena memang tujuan akhirnya adalah Bajawa. Setelah mendapat beberapa tambahan penumpang, bus pun kembali menuju ke arah barat. Ende menurut saya adalah kota paling besar yang ada di Flores. Luas kota yang relatif lebih besar dan posisinya yang berada di tengah Flores, serta menghadap langsung laut Timor menjadikan Ende kota besar dengan penduduk yang lebih banyak. Mungkin dalam beberapa tahun ke depan, Labuanbajo bisa menyaingi Ende mengingat pesatnya pertumbuhan kota di barat Flores yang menjadi pintu masuk utama ke Taman Nasional Komodo itu. Read more »

11/10/2011 Posted by | the journeys | 2 Comments

Flores.. kalau sudah di sini, jangan protes (2)

Moni-Kelimutu.. merasakan kedamaian di danau tiga warna

Bus dengan rute Larantuka-Ende melintas tepat pukul 10:15. Dalam setengah jam, bus sudah tiba di kota Maumere. Supir bus melintasi kota dengan perlahan sambil mencoba mendapatkan penumpang tambahan. Maumere adalah satu-satunya kota besar di Flores yang terletak di pantai utara, berbeda dengan Larantuka, Ende, Bajawa, Ruteng, dan Labuanbajo yang cenderung menghadap pantai selatan Pulau Flores. Setelah dirasa cukup penumpang, supir pun melajukan busnya lagi ke arah barat, menuju Ende.

Kondisi jalan masih sangat mulus, walaupun lebar jalan memang tidak selebar jalan-jalan lintas di Jawa atau Sumatera, tetapi pas ketika dua bus berpapasan. Dari Maumere di utara menuju Ende di arah barat daya, mau tak mau jalan dibuat memotong pegunungan di tengah lagi. Konsekuensinya adalah bentuk jalan yang lebih berkelok, kadang melewati tebing-tebing batu di sebelah kiri dan jurang di sebelah kanan, dan lebih membuat ciut nyali. Manuver-manuver supir sewaktu melewati kelokan-kelokan yang seolah tanpa putus masih membuat beberapa penumpang mengeluarkan isi perutnya. Saya hanya bisa diam, memejamkan mata, dan mencoba tidak melihat muntahan-muntahan di depan saya. Read more »

11/10/2011 Posted by | the journeys | Leave a Comment

Flores.. kalau sudah di sini, jangan protes (1)

KMP Balibo-Wodong.. merasakan moda transportasi masyarakat Flores

Tanggal 27 desember, begitu tiba di pelabuhan Tenau dari Rote, saya langsung mencari ojek untuk mengantar saya ke pelabuhan Bolok, tidak sampai 15 menit waktu tempuhnya. Membayar ojek Rp 25000, kemudian tiket masuk pelabuhan Rp 4500, dan Rp 80000 untuk tiket kapal KMP Balibo rute Kupang-Larantuka, berangkat pukul 15.15 dan akan tiba keesokannya jam 7 pagi. Larantuka saya pilih karena berada di Flores timur, saya tinggal mengikuti jalan darat ke arah barat sampai Labuanbajo, kemudian menyebrang ke Sumbawa, jalan darat lagi, dan terakhir menyebrang lagi ke Lombok. Itu rencana awalnya. Read more »

11/10/2011 Posted by | the journeys | Leave a Comment

Rote.. one island you must visit when you’re alive

Dari Kupang, tanggal 24 desember 2010, saya bertolak menuju Rote, salah satu pulau di selatan gugusan nusantara. Beranjak sedikit dari Rote yaitu pulau Ndana, maka anda sudah berada di garis khayal 11 derajat lintang selatan, batas negara tercinta ini. Rote sebenarnya tidak masuk agenda kunjungan saya. Tetapi dari obrolan dengan Pak Teddy di penginapan di Kupang, saya jadi tertarik mengunjungi pulau ini sebelum melangkah jauh ke Flores. Dari penginapan, saya diantar ojek dengan ongkos Rp 25000, biaya masuk areal pelabuhan Rp 4000, dan untuk masuk ke terminal diharuskan membayar Rp 4000 lagi. Harap diingat bahwa Kupang mempunyai 2 pelabuhan kapal utama, Tenau dan Bolok. Kapal yang menuju pulau-pulau sekitar Kupang, termasuk Rote, dilayani di Tenau. Sedangkan Bolok melayani kapal-kapal besar tujuan dengan rute yang lebih jauh seperti kapal penumpang ke Surabaya dan Flores, serta kapal-kapal kargo pengangkat barang. Jangan sampai salah pelabuhan. Read more »

11/10/2011 Posted by | the journeys | Leave a Comment

   

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.